Sunday, September 16, 2012

DIY : Lensa Opsional Bikinan Sendiri untuk Kamera Ponsel

Terinspirasi oleh semakin maraknya dunia fotografi yang semakin hari semakin dimanjakaan dengan berbagai teknologi dan acessories. Bahkan saat ini fotografi bukan hanya milik brain/merek fotografi produsen kamera digital baik pocket maupun DSLR melainkan fotografi sudah menjadi prioritas bagi para produsen berbagai merk gadjet, mulai dari ponsel, tablet, mp3 player dan notebok atau eReader.

Sejak bergabung dengan salah satu komunitas fotografi ponsel di salah satu jejaring social bernama coferONE kurang lebih satu minggu yang lalu, telah membuka mata saya bahwa dunia fotografi bukan hanya "melulu" berbicara soal DSLR dan lensa lensa segede gaban ( baca:berukuran besar) dengan harga yang lumayan mahal.

Hal yang paling menarik digroup ini adalah saat beberapa member mulai share hasil jepretannya bertemakan macro, still life dan kuliner. Tiga tema tadi sejak sebelum bergabung di group ini tidak pernah terbayangkan sedikitpun akan mampu dihasilkan oleh kamera ponsel, selalu beranggapan bahwa untuk menghasilkan tiga tema tersebut dibutuhkan kamera DSLR lengkap beserta daya dukung lighting dan mini studio yang cukup ribet, namun hal ini seketika hilang saat mulai bermunculan foto-foto inspiratif bertemakan macro, still dan kuliner di group ini.

Akhirnya setelah hari sabtu kemaren berkesempatan tatap muka dengan beberapa member regional Jabodetabek (walaupun kurang berpartisipasi secara maksimal), mulailah muncul semangat dan sikap tertantang lagi untuk belajar fotografi dan berkreasi dengan memaksimalkan kamera ponsel yang ada. Salah satu langkah awal adalah memenuhi kebutuhan untuk pengadaan lensa opsional untuk support foto-foto bertemakan macro, still life dan kuliner.

Berikut proses pembuatan lensa yang dimaksudkan untuk motret foto-foto bertema still life :
1. Alat dan Bahan

  • lampu senter ( pilih yang memiliki kaca berbentuk cembung )
  • tempat cotton bud, ambil tutupnya saja (umumnya berupa mika tipis berwarna transparan/bening), ukuran diameternya bisa dipilih yang paling mendekati ukuran diameter kaca lampu senter
  • lembaran spon tipis (+/- 2mm), pilih warna hitam
  • lem serbaguna, atau bis apilih semacam alteco
  • gunting

2. Proses Pembuatan
  • lepas ujung penutup lampu senter, pisahkan antara dudukan kaca/lensa depan dengan badan senter  

  • ambil tutup cotton bud, usahakan pilih tempat cotton bud dengan diameter yang tidak jauh beda dengan diameter tutup lampu senter. apabila tidak ada ukuran yang sesuai, usahakan yang paling mendekati dengan diameter lebih kecil bukan lebih besar, nantinya diameter tutup cotton bud bisa dilapis spon untuk penyesuaian.

  • lapis tutup cotton bud dengan spon, sebelumnya pada spon dan tutup cotton bud dibuat lobang 1/4 lingkaran dengan ukuran lebar disesuaikan dengan ketebalan ponsel. pertimbangan pemotongan sepanjang 1/4 lingkaran diperuntukan untuk ponsel dengan posisi kamera di pojok (kanan/kiri), sebagai contoh disini adalah iphone, apabila kamera berada di tengah atas, dan posisinya dari sisi atas ponsel ngga lebih dari diameter tutup cottong bud maka bisa dibuat panjangnya lobang 1/2 lingkaran.untuk menempelkannya sebaiknya gunakan double selotip, selain kuat lapisan lemnya juga tipis, hasilnya bisa lebih rapih.

kenampakan setelah dilapis spon berwarna hitam :
  
lapisan spon dibuat dua lapis untuk menyesuaikan diameter dudukan kaca/lensa lampu senter
  • pasang tutup lampu senter yang sebelumnya kaca/lensa lampu senter di lem menggunakan lem serbaguna/alteco/uhu pada dudukannya agar posisinya permanen (tidak goyang)

  • setelah semua permikaan tutup cotton bud dilapis spon hitam dan tutup lampu senter beserta kaca/lensanya dipasang, opsional lensa bikinan sendiri siap digunakan, caranya masukan ponsel ke lobang yang sudah dibuat sebelumnya seperti pada gambar berikut :


untuk mengatur posisinya, lihat pada layar ponsel apakah posisi lensa kamera sudah ditengah, atur vignetenya sampai tidak terlihat di masing-masing pojokan bidang foto. apabila masih terdapat vignete, pastikan posisi vignete berimbang dengan titik fokus pas di tengah, kemudian lakukan zooming seperlunya sampai vignete tersebut tidak terlihat.
atur jarak lensa dengan object untuk mengatur fokus (umumnya +/- 15cm dr objek), dan apabila kamera pada ponsel mendukung selecting fokus, lakukan selecting fokus pada titik tertentu yang diinginkan.

beberapa foto hasil uji pertama  coba :







 note :
keseluruhan foto diupload seadanya, tanpa ada proses cropping dan edit apapun, pada saat motret kamera tidak dizoom dan setingan kamera masih standar, hanya melakukan selecting focus.
kamera yang digunakan :
- iphone 4 menggunakan ProCamera app
- xperia Active menggunakan kamera standar
framing menggunakan fotoFrame app

terimakasih buat temen - temen coferONE atas inspirasi dan masukannya, atas karya yang luar biasa yang bikin diri ini iri dan selalu merasa kurang puas dengan karya sendiri, brusaha untuk tetap belajar, berbagi dan mengharap koreksi dari semuanya, semata mata hanya untuk memperbaiki diri dalam proses belajar fotografi.
silahkan dishare apabila memang dirasa ada manfaatnya. :)














Sunday, June 10, 2012

Hanya aku, istri dan anak'ku...

Pas tepat ultah istri'ku tercinta, karena tuntutan kerjaan dan alasan rasional lainnya hari ini kami mesti saling menyuskuri dan menikmati nikmatNya untuk keluarga kecil ini di tempat terpisah, istri dan anaku Raisha di Bekasi ditemani sama Bi Eeen (adek' Papah), sedangkan aku mesti menjalani training di kantor Singapore.

Kejadian semalam (9/6/2012, kurang lebih jam 19.15), buah hati kami mulai muntah saat makan malem, hal ini dikarenakan batuk. Berlanjut setelah itu hampir setiap 1/2 jam Raisha batuk disertai rengekan tangisan dan beberapa kali muntah.

Sedih, kasian, bingung dan khawatir melebur menjadi satu. konsentrasipun terbagi antara packing persiapan buat perjalanan besok, sisa PR pekerjaan yang belum selesai, dan khawatir akan kondisi Raisha yang lagi sakit.  Spontan untuk beberapa kali keluar nada tegas dari mulut ini, sekedar untuk memastikan Raisha secepatnya ditangani pada saat mulai batuk dan nangis.

Semalamam sampai jam 03.30 tadi pagi, raisha entah berapa kali terbangun disertai tangisan sedih karena batuk yang mengganggu dan juga muntah, ditambah lagi demam yang membuat kami semakin khawatir. Entah ini cobaan atau ujian kado buat ultah istri tercintaku, atau bahkan ini adalah ujian buatku untuk masalah memori atau ingatan akan moment-moment penting seperti ultah istri, karena memang sudah bukan rahasia lagi kalau untuk masalah lupa moment-moment penting seolah udah identik dengan sosok bapak yang satu ini, bahkan untuk mengingat tanggal pernikahan ngga cukup dua kali flashback, setidaknya butuh 3x berpikir baru ingat.

Bukan sepenuhnya lupa, karena beberapa menit sebelum beralih ke hari inipun masih terlintas ucapan dan ungkapan sayangku ke istri, sampai akhirnya semua bahkan bukan hanya moment ultah istri, berasa segalanya terlupakan dan tidak berarti lagi selain terpikir beban berat mesti meninggalkan Raisha dalam kondisi sakit, mesti meninggalkan istri dengan segala aktivitas tanpa campur tanganku sebagai suami.
Walaupun hanya beberapa hari, namun apabila melihat kebelakang dan beberapa bulan kedepan, sepertinya setengah menit buat kami sangat berarti untuk menikmati kebersamaan ini. Tanpa bermaksud menciptakan sebuah keluhan atau sikap lemah menjaladi apa yang sudah dijalani saat ini, tapi konsekuansi dari pekerjaan yang menuntut lebih berada diluar rumah membuat kami benar-benar belajar untuk lebih menghargai waktu dan kebersamaan antara satu sama yang lain.

Beberapa kata yang sampai hampir 3 tahun pernikahan kami ini belum pernah terucapkan dari mulut ini, bukannya ngga bisa, bukannya ngga berani apalagi alasan ngga mampu, tapi karena terlalu takut perkataan jujur yang murni dari hati ini ngga berjalan beriringan dengan apa yang telah aku lakukan sebagai seorang suami, ayah dan imam di keluarga kecil ini. Seiring berjalan waktu, beriringan juga masalah dan cobaan hidup ini, sesekali dibumbui dengan salah paham, curiga bahkan tanpa diingkari pula keluar sedikit atau banyak nada emosi dari mulut ini, karena biar bagaimanapun diri ini tidaklah lebih dari sosok manusia yang tidak pernah luput dari dosa dan salah, proses pendewasaan lah yang selalu menjadi pembatas dan pengingat akan kontrol disepanjang perjalanan hidup ini.

" Istriku, sosok yang telah digariskan olehNya untuk menjadi pelengkap tulang rusukku...
Istriku, sosok penyempurna yang selalu mengisi hari dan keseharianku...
Istriku, sosok satu-satunya yang menjadi alasan diri ini bernafas, berjalan dan berlari di atas kehidupan yang penuh liku..

dan...

Anakku, bukti cinta kasih kami sebagai suami istri dan sebagai umatMu ya Alloh...
Anakku, bukti kepercayaanMu pada kami atas segala kemampuan menciptakan generasi solehah dan keluarga islam yang selalu di jalanMu ya Alloh...
Anakku yang selalu menjadi pemersatu segala perbedaan karakter kami sebagai manusia, orang tua ataupun sebagai sosok individu baik sebagai suami dan istri atau hanya sebagai sosok lemah manusia dihadapMu...

Hanya untuk mereka (istri & anaku) diri ini berdoa, ikhtiar dan terus berproses menjalani hidup ini...
berusaha keras menjauh dari keluhan, dan selalu berusaha keras menciptakan keikhlasan
hanya semata demi kebahagiaan kami sekeluarga...

Dan hanya untuk mereka (istri & anakku) alasan segala hembusan dan tarikan nafas ini mengalir, tiada yang lain selain alasan dari segala alasan di dunia ini...Segala ikhlas dan imanku hanya untukMu ya Alloh...

Tak hanya berharap Kau mudahkan jalan hidup kami, tapi Kau kuatkan diri ini agar bisa melalui segala ujianMu dan diberi keikhlasan dan rasa sabar menghadapi semuanya, dan juga berikanlah kebersamaan dan kebahagian yang sempurna untuk kami sekeluarga...

amin...amin...."


Selamat ultah sayangku, istriku dan ibu dari anak-anakku... tulus sayang dan cinta ini untukmu... dan aku yakin engkapun begitu, seyakin bahwa esok kan datang mentari pagi lagi...

Tetaplah menjadi sosok istri, sahabat dan pelengkap dari bagian hidupku...
karena aku yakin entah apa yang akan terjadi, saat setiap detik dari nafasku tak tertulis namamu di takdir hidupku....
Cukup hanya untukku, istri dan anak'ku...
dan cukup hanya aku dan Alloh yang tau atas segala keihklasan dan kesungguhanku....



Untuk cinta dan dan bagian tulang rusuk'ku, Sri Aninda Wulansari...
dan untuk buah hati dan penyempurna segala rizky dan hidupku, Raisha Azma Khanzahra...


Ayah,


Sunday, June 3, 2012

Stasiun Medan |Gallery|







Location :
Train Station Medan
Gear :
Nikon D200 | Nikkor 70-300
Photo by :
Triono, Dedi